All posts by FCG Consulting

STUDI KELAYAKAN (FEASIBILTY STUDY) PEMBANGUNAN KAWASAN TERPADU DI PAPUA

Papua sebagai bagian tidak terpisahkan dari Indonesia, merupakan pulau terluas dimana sumberdaya manusia dan sumberdaya alamnya sangat menjanjikan bagi kebangkitan dan kemakmuran Indonesia di masa mendatang.  Papua secara geopolitik berada di pusat lintasan Dunia Timur – Barat, Utara – Selatan sehingga pulau ini sering disebut sebagai “THE EAST GOLDEN GATE”. Posisi inilah yang membuat The Founding Father bangsa ini, yaitu Bung Karno berjuang merebut Papua untuk masuk dalam Wilayah NKRI. Demikian juga Jenderal Besar Douglas Mac Arthur dalam Perang Dunia Ke II menggunakan strategi “Lompat Katak” di pulau yang indah ini. Mac Arthur mengambil posisi komando untuk memenangkan Perang Dunia Ke II di Atas Bukit Rhuralimokho Sentani Papua (Ifar Gunung) bergandengan dengan Danau Sentani yang indah dimana menurut sebagian kalangan sesungguhnya merupakan pusat lintasan bumi bagi strategi pembangunan, peradaban, kemanusiaan, kemajuan, kemakmuran dan perdamaian dunia masa kini khususnya Indonesia Bagian Timur.

papuaweb2

Di atas kawasan seluas ± 300 ha, menurut inisiator kegiatan diperkirakan cukup ideal dalam membangun suatu kawasan terpadu bertaraf internasional. Keseluruhan kawasan tersebut akan dihubungkan dengan fasilitas kereta gantung, jalan, pedestrian dan arboretum yang menjadi kawasan hijau di setiap tapak yang dibangun.

Pembangunan kawasan terpadu ini akan tumbuh dan berkembang sesuai yang dicita-citakan, maka sudah selayaknya dilengkapi dengan infrastruktur yang tertata dengan baik mulai dari aspek energi, air, tanah, udara dan pengolahan limbah yang benar dan berkualitas. Langkah yang akan dilakukan adalah dengan konsep “Back To Nature”, dimana tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dapat di daur ulang. Untuk itu konsep 5 R (Reserve – Reduce – Reuse- Recycle & Recovery) akan dikaji secara mendalam khususnya dalam manajemen air, tanah, udara, energi dan limbah.

Studi ini selain membahas keterpaduan antar unit aktivitas, juga mengkaji keterpaduan alam dan daerah hinterland, dan hal tersebut dimulai dengan analisis penggunaan lahan, penetapan blok plan, penetapan BCR dan membuat alternatif manajemen energi, air, tanah, udara dan limbah.

Tujuan pokok penyusunan studi kelayakan ini adalah untuk mengkaji kelayakan pembangunan Kawasan Terpadu yang akan menjadi gerbang emas Papua adalah sebagai berikut :

  1. Health centre (rumah sakit, next generation, sport medical centre, geriatric centre, papua aids centre, sanatorium, herbal, tropical disease, traumatic centre, cardiac centre, cancer centre, dll) berkelas dunia yang pada sisi lainnya berpadu dengan konsep pariwisata sehat papua tourism centre dengan berbagai fasilitas mulai dari lapangan golf, water boom, paralayang, kereta gantung dan kegiatan outbond dll serta ditunjang oleh kawasan bisnis, condotel dan kawasan pendidikan. 
  2. Pusat kawasan bisnis berkelas dunia dengan berbagai fasilitas seperti perkantoran, mall, theater, galeri budaya dan seni serta sarana dan prasarana bisnis lainnya. 
  3. Pusat pendidikan tinggi berupa kampus modern yang akan dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara. 
  4. Pusat hunian yang berwawasan lingkungan dengan fasilitas utama seperti kondotel, resort villa dan lainnya. 
  5. Pusat pemanfaatan energi ramah lingkungan. 
  6. Pendorong pengembangan sarana dan prasarana dan infrastruktur berupa penambahan landasan pacu Bandara Sentani ke arah Danau Sentani serta pembangunan jalan layang menuju dan dari Bandara Sentani. 
  7. Pendorong terwujudnya pembangunan fasilitas vital (semacam istana bagi pemimpin tertinggi RI#1 dan fasilias pendukungnya) yang jika sesuai dapat dijadikan sebagai alternatif lokasi strategis untuk pengendalian pemerintahan yang baru di Indonesia Bagian Timur. 

Suatu  Kegiatan Studi Kelayakan (feasibility study) seperti halnya pembangunan Kawasan Terpadu ini, umumnya adalah sebagai berikut :

  1. Pengadaan data dasar, mencakup: 
    • Peta cadastral topography, dengan foto udara dan geodetic survey, untuk menghasilkan peta kontur berskala 1:5.000 sd 1:1.000, berikut batas kawasan dan informasi tanda-tanda alam 
    • Peta fungsi kawasan hutan skala 1:250.000 
    • Peta sosio-demografi kecamatan yang mencakup kerapatan penduduk, suku, dan statistik kependudukan 
    • Peta kota yang mencakup lokasi kawasan, danau, bandara, dan hinterland-nya 
    • Peta geologi lingkungan dan tata air (geo-hydrology) yang mencakup lokasi kawasan berskala 1:10.000 atau lebih detil 
    • Peta peruntukan lahan skala wilayah kabupaten, kecamatan, dan perdesaan yang mencakup lokasi kawasan papuaweb1      papuaweb3
    • Data iklim mikro (micro-climate) 5-10 thn terakhir 
    • Data kegiatan ekonomi perkotaan dan industri rumahan di sekitar kawasan beradius 10 km 
    • Data adat, budaya, dan situs kesejarahan di sekitar kawasan 
    • Data vegetatif di sekitar kawasan, termasuk informasi flora-fauna 
    • Data soil test (civil work) dan land suitability (sample tanah vegetatif 5-10 titik) 
    • Data possibility expanded land sekitar 100 ha 
    • Data fisis khusus perairan, mencakup kualitas air, pasang surut, aktivitas di permukaan air, biota-abiota danau, kegiatan rekreatif, prasarana dan sarana terkait rekreasi danau 
    • Data perbankan, mall, hiburan (amusement) di perkotaan terdekat (skala kota) 
    • Data pertambangan dan industri kehutanan berskala kabupaten dan propinsi 
    • Data sosio-demografi berskala kabupaten dan propinsi 
    • Data ekonomi dan keuangan, investasi, prospek bisnis, market, network, dll untuk kepentingan bahan positioning dan portofolio kawasan maupun stake holders
  1. Kunjungan lapangan, dilakukan beberapa kali terkait dengan pendataan, penganalisaan, dan perancangan awal untuk studi kelayakan. 
  2. Kegiatan tinjauan referensi, penggunaan benchmarking, comparative sites, sehingga diperoleh penggambaran bayangan kawasan studi 
  3. Pendataan melalui in depth research, untuk menguatkan visi, misi, dan kesiapan para pihak stake holders untuk pelaksanaan pembangunan kawasan ini. 
  4. Penyiapan analisis kesesuaian lahan, daya dukung lahan, daya dukung bangunan, hubungan fungsional, positioning kawasan, pencitraan kawasan, land marking, interkoneksi kawasan untuk penyiapan general plan kawasan, yang pada gilirannya menjadi dasar penyusunan master plan
  5. Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : 
    • Beberapa Rancangan Kawasan 
    • Merancang rancangan umum kawasan berikut struktur 
    • Menyiapkan rancangan zonasi kawasan 
    • Merancang sarana dan prasarana kawasan 
    • Mengemukakan image kawasan secara visual 
    • Merancang sky-line kawasan dari berbagai arah 
    • Merancang alokasi pembiayaan 
    • Merancang prospek cash flow dan business indicator 
    • Merancang tahapan pembangunan dan manajemen 

Studi berlangsung selama 75 hari dengan melibatkan beragam keahlian meliputi planologi, geologi, geohidrologi, teknik sipil, energi, teknik lingkungan, informatika, kehutanan/ekologi, sosial, ekonomi  – manajemen dan kedokteran. Dalam kaitan ini Tim Professional FOCUS Consulting Group berada dalam jajaran ketenagaahlian mendukung  pelaksana utama proyek ini yaitu salah satu badan usaha milik sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia.

PELUNCURAN HARI LINGKUNGAN HIDUP 2015 DAN PEKAN LINGKUNGAN INDONESIA KE-19

Jakarta, 21 April 2015 – Hari ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara resmi meluncurkan Pekan Lingkungan Indonesia 2015 (PLI 2015) di ruang Rimbawan, Manggala Wanabakti, Jakarta. Pekan Lingkungan Indonesia 2015 (PLI 2015) merupakan gelaran yang ke-19 kalinya dan akan diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Assembly Hall pada tanggal 18 s/d 21 Juni 2015 yang rencananya akan dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pekan Lingkungan Indonesia Ke-19 tahun 2015 ini akan diikuti oleh instansi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Perusahaan Swasta Nasional dan Multinasional, Badan dan OrganisasiLingkungan Hidup serta pemerhati lingkungan. Tidak hanya pameran, Pekan Lingkungan Indonesia juga akan diisi dengan berbagai kegiatan yang bersamaan dengan pameran CSR yang ketujuh dan pameran teknologi terbarukan yang kelima.

Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani mengatakan, “UUD 1945 menyatakan, perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan mandiri. Konstitusi hijau ini menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan hak atas lingkungan hidup dan yang bersih dan sehat. Kita wajib untuk bersama-sama mencapai hal tersebut.”

Penyelenggaraan Pekan Lingkungan Indonesia merupakan rangkaian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED) yang merupakan perayaan lingkungan hidup terakbar di seluruh dunia. Puncak acaranya diperingati pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya. Sejak digelar pertama kali pada tahun 1972, WED telah menjadi media bagi PBB (melalui UNEP) untuk mengkampanyekan akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertujuan menyadarkan semua pihak untuk ikut bertanggung jawab merawat bumi sekaligus menjadi pelopor perubahan dan penyelamat bumi dan lingkungan hidup.

Pada tahun 2015 ini, perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED) 2015 mengangkat tema “Seven Billion Dreams.One Planet. Consume with Care”.

Dalam penyelenggaraan PLI 2015 ada berbagai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan berupa:

1. Lomba Menggambar dan Mewarnai untuk anak-anak sekolah yang akan diikuti 500 peserta dengan tiga kategori lomba yang berbeda-beda;
2. Lomba Photo Lingkungan, yang akan diikuti dari berbagai kalangan (umum, pelajar, mahasiswa dan wartawan);
3. Eco Driving workshop dan rally akan dikutioleh 100 peserta mewakili kelompok masyarakat dan individu;
4. Lomba Green Music diikuti 50 kelompok (boy band dan girl band), music tradisional;
5. Eco Creative diikuti 30 peserta mewakili dunia usaha dan pemda. Eco Creative ini akan menampilkan produk-produk daurulang dan produk-produk ramah lingkungan;
6. Fun walk dan Fun bike akan dikuti 2000 peserta, pada saat digaris finish semua peserta fun walk dan fun bike akan dibagikan bibit pohon; dan
7. Seminar and Workshop tingkat nasional dengan 8 judul seminar yang akan menghadirkan pembicara-pembicara para pakar dibidangnya masing-masing.

Info : www.menlh.go.id

Studi HCV (NKT) dan SIA

Meski konsep HCV (High Conservation Value) atau juga dikenal dengan NKT (Nilai Konservasi Tinggi)  pada awalnya didisain dan diaplikasikan untuk pengelolaan hutan produksi (HPH), dengan cepat konsep ini menjadi populer dan digunakan dalam berbagai konteks yang lain. Di sektor publik, HCV digunakan dalam perencanaan pada tingkat nasional dan propinsi, yang telah dilakukan di banyak negara. Di sektor sumber daya terbaharui, HCV digunakan sebagai alat   perencanaan untuk meminimalisasi dampak-dampak ekologi ekologi dan sosial yang negatif dalam pembangunan perkebunan termasuk yang saat ini sedang populer yaitu penerapan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) di unit pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

 

Mengacu pada prinsip dan kriteria National Interpretation – Roundtable Sustainable Palm Oil/NI-RSPO), khususnya pada Prinsip 5 dalam Kriteria 5.2 dan Prinsip 7   dalam Kriteria 7.3 yang telah mengatur bagaimana  kawasan/area yang bernilai konservasi tinggi harus diidentifikasi, dikelola dan dipantau. Secara rinci kedua kriteria tersebut berbunyi :

Kriteria 5.2 “Status terancam, atau hampir punah dan habitat dengan nilai konservasi tinggi, jika ada di dalam perkebunan atau yang dapat terkena dampak oleh manajemen kebun dan pabrik harus diidentifikasi dan konservasinya diperhatikan dalam rencana dan operasi manajamen”.

Kriteria 7.3 “Penanaman baru sejak November 2005 tidak dilakukan di hutan primer atau setiap areal yang dipersyaratkan untuk memelihara atau meningkatkan satu atau lebih Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value)”.

Sementara dalam Prinsip dan Kriteria ISPO, ketentuan terkait keberadaan kawasan/area yang bernilai konservasi tinggi disebutkan sebagai berikut :

Kriteria 3.5 “Pengelola perkebunan harus melakukan identifikasi kawasan yg mempunyai nilai konservasi tinggi yg merupakan kawasan yg mempunyai fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa dengan tidak membuka untuk usaha perkebunan kelapa sawit”

Kriteria diatas menunjukkan adanya keharusan melakukan identifikasi dan pengelolaan habitat/area yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value – HCV) di dalam pengelolaan kebun dan pabrik sawit baik untuk skema wajib ISPO maupun skema sukarela RSPO. Khusus terkait RSPO, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk implementasi NPP (New Planting Procedure). Sebagai catatan untuk penerapan dalam ISPO mempunyai beberapa ketentuan yang mengaturnya lebih lanjut.

Di sektor swasta, penggunaan konsep HCV menunjukkan komitmen perusahaan untuk melakukan praktek terbaik (best practice) sekaligus memberikan jalan bagi perusahaan untuk menunjukkan diri sebagai warga dunia usaha swasta yang bertanggung jawab.
bengkayang-foto-3-2bengkayang-foto-6-1

Dengan teridentifikasikannya nilai-nilai penting dan jaminan bahwa nilai tersebut akan tetap dipertahankan dan dilestarikan, memungkinkan untuk membuat keputusan-keputusan yang rasional sehubungan dengan pengelolaan kebun dan pabrik yang konsisten terhadap pelestarian nilai-nilai lingkungan dan sosial yang dianggap penting.

Sementara itu masih dalam rangka dalam menghadapi sistem sertifikasi RSPO, salah satu persyaratan yang diperlukan adalah melakukan kegiatan penialain dampak lingkungan atau Social Impact Assesment (SIA) kegiatan pembangunan kebun kelapa sawit sebagai landasan untuk menyusun  dokumen rencana/road map kelestarian sosial perusahaan, yang berisi tentang rencana kelola sosial berdasarkan isu dan permasalahan sosial yang berkembang disekitar perusahaan.

Dalam kepentingan inilah PT FOCUS CONSULTING GROUP (FCG Consulting)  terlibat dalam  kegiatan studi-studi ini di beberapa perkebunan kelapa sawit baik yang sedang tahap pembangunan maupun sudah beroperasional.

Program studi yang dikembangkan FCG Consulting bertujuan membantu perusahaan atau unit manajemen perkebunan, untuk :
a).  Memahami pentingnya NKT;
b).  Memahami persyaratan-persyaratan (kriteria) NKT;
c).  Mengetahui metoda identifkasi  dan evaluasi NKT;
d).  Mengetahui jenis, tempat, cara umum pengelolaan NKT yang berada di areal rencana pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit.
e).  Menyiapkan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan NKT;
f).   Mengkaji persepsi masyarakat terhadap perusahaan, harapan dan keinginan masyarakat terhadap rencana perusahaan dalam pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit  serta mekanisme pemenuhanya;
g).  Mengidentifikasi permasalahan dan isu-isu sosial yang mungkin akan terjadi (dihadapi) terhadap perusahaan, serta alternatif solusinya;
h).  Mengidentifikasi stakeholder yang terkait langsung dan tidak langsung dengan kegiatan perusahaan, yang perlu diperhatikan (skala prioritas);
i).   Merumuskan Road Map (permasalahan, strategi, program dan kegiatan) yang dibutuhkan perusahaan dalam mengelola aspek Sosial untuk menuju terwujudnya hubungan harmonis dengan plasma dan masyarakat sekitarnya;
j).    Menghasilkan dokumen hasil  penilaian NKT dan dampak sosial  rencana pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit;
k).   Membantu melaksanakan EXPOSE atau konsultasi publik kepada stakeholder.

expose_nkt_web (1)