Perkembangan Sertifikasi ISPO

Komisi ISPO dan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) dengan didukung para pihak menyelenggarakan 3rd Internation Conference and Expo on Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE ISPO) tanggal 27-28 Maret 2019 di Gedung Manara 165 Jakarta.

Kepala Sekretariat ISPO , dalam sambutan dan makalahnya menyampaikan perkembangan sertifikasi ISPO, antara lain :

Permasalahan yang masih terjadi :

  • Sebagian areal terindikasi Kawasan Hutan dan KHG;
  • Tumpang tindih perizinan;
  • Belum HGU / STDB / SHM;
  • Belum ada IUP atau berubah;
  • Sengketa / konflik;
  • Tidak produktif/ Tanaman tua;
  • Fasilitasi pembangunan kebun masyarakat;
  • Realisasi ISPO;
  • Kampanye negatif.

Catatan penting :

  • Sistem sertifikasi ISPO tidak memihak dan bersifat independen,
  • Penilaian sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dan disetujui oleh Komisi ISPO,
  • Sistem sertifikasi ISPO mengacu dan sesuai dengan system dari International Organization for Standardization (ISO), mengacu pada ISO : 9001:2008, 14001-2005, 19011:2011, 17021-2012 (IEC 17021-2008), IEC 17065:2012;,
  • ISPO sudah memberikan pengakuan kpd 15 Lembaga Sertifikasi dan mengakui 1.559 Auditor, 8 Lembaga Konsultan dan 1 Lembaga Pelatihan Auditor ISPO,
  • Sekretariat Komisi ISPO melakukan Koordinasi dg BSN dan KAN; Tusi: Sosialisasi, dan Promosi; Verifikasi Laporan Hasil Audit ISPO dari LS untuk Tim Penilai dan Komisi ISPO dalam memberikan pengakuan Sertifikasi ISPO; Fasilitasi pelatihan Auditor ISPO; Pengawasan dan Evaluasi pelaksanaan audit ISPO oleh LS, serta Penyelesaian sengketa.

Perkembangan Penerbitan Sertifikat ISPO ( 25 Maret 2019) :

  • Pelaku Usaha Perkebunan yang ikut sertifikasi ISPO : 722 ( 707 perusahaan, 11 KUD/KSU Kebun Plasma,1 Bumdes, dan 3 Koperasi/Asosiasi Kebun Swadaya), dengan rincian:
  • LHA DITERIMA Set. Komisi ISPO sd 25 Maret 2019: 606 Laporan,
  • SUDAH verifikasi Tim Set. Komisi ISPO : 569 Laporan ( 93,90 % dr 606)
  • SEDANG verifikasi Tim Set. Komisi ISPO : 14 Laporan ( 2,30 % dr 606)
  • BELUM verifikasi Tim Set. Komisi ISPO (2019): 23 Laporan ( 3,80 % dr 606)
  • SUDAH TERBIT Sertifikasi ISPO : 502 LPA ( 88,20 % dr 569)
  • SPKD belum ditanggapi LS: 7 LPA ( 1,30 % dr 569)
  • Ditunda :60 LPA ( 10,50 % dr 569)
  • DITUNDA, karena belum comply : Hak atas Tanah belum SHM (masih SKT,SPPT), Perpanjangan HGU, Izin Pelepasan Kawasan Hutan, Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat 20%, Sengketa Lahan, Kebun Pemasok belum ISPO, Perubahan IUP, Upah Tenaga Kerja,Izin Pembuangan & Pengangkutan LB3, dan Izin Pemanfaatan Limbah Cair.

Analisis Capaian Kinerja SERTIFIKASI ISPO :

  • Sertifikat ISPO yang terbit 502 dengan luas areal mencapai 4.115.434 ha ( 29,30% dari total luas kebun sawit 14,03 juta Ha), total produksi TBS 52.209.749 ton /th, dan produksi CPO 11.567.779 ton/th (31 % dari total produksi CPO 37,8 juta ton/th).
  • Terdiri dari : Perusahaan Swasta 459 sertifikat, dengan luas areal 3.905.138 Ha ( 50,66% Ha dari luas total 7,707 juta Ha); PTP Nusantara 34 sertifikat, dengan luas areal 204.590 Ha (28,80% dari luas total 710 ribu Ha); dan Koperasi Pekebun Plasma-Swadaya 9 sertifikat seluas 5.796 Ha (0,11% dari luas total 5,613 juta Ha).

Perkembangan Sertifikasi ISPO 2019 :

  • Sertifikat ISPO yang dicabut/ dibatalkan sebanyak 4 perusahaan seluas 12.186 Ha, TM seluas 10.551 Ha, produksi TBS 195.771 Ha/th dan produksi CPO 46.544 ton/ha.
  • Jumlah sertifikat ISPO saat ini adalah 498 ( 489 perusahaan, 5 Koperasi Swadaya,dan 4 KUD Plasma) dengan total luas areal 4.103.254 Ha, TM seluas 2.755.018 Ha, total produksi TBS 52.003.978 ton/th dan CPO 11.521.235 ton/th. Produktivitas TBS 18,87 ton/ha/th dan Rendemen rata-rata 22,15 %.

Manfaat ISPO :

  1. Meningkatnya Kepatuhan Pelaku Usaha Industri Sawit Indonesia terhadap Peraturan per Undang-undangan RI, Memperbaiki Tata Kelola Industri Sawit Indonesia, dan Menghormati HAM.
  2. Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup , Menjaga Kelestarian Hutan dan Keanekaragaman Hayati, Pengelolaan Lahan Gambut secara bertanggung jawab, serta upaya Pencegahan Kebakaran Lahan.
  3. Melindungi Taman Nasional, Sumber Air, Sepadan sungai, Pantai, Daerah Rawan Bencana Alam, Hutan atau Padang Rumput dengan Keanekaragaman Hayati yang Tinggi, Area yang memiliki Nilai Sejarah Tinggi; serta melindungi Spesies Terancam Punah.
  4. Turut serta berperan dalam Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca.
  5. Meningkatnya Produksi dan Produktivitas TBS dan CPO, sebagai dampak Pelaku Usaha menerapkan Praktek Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan yang Baik ( Pembukaan Lahan, Penggunaan Benih/Bibit Unggul bersertifikat, Pengendalian Hama Terpadu, Penggunaan Pestisida secara bijak, Aplikasi Pemupukan sesuai Rekomendasi, Manajemen Panen, dll).
    Benefit : Meningkatnya Penghasilan Pelaku Usaha dan Pekebun Sawit.
    Impact : Pertumbuhan Ekonomi dan Bisnis di daerah terpencil, Penyerapan Tenaga Kerja, Pengentasan Kemiskinan, Peningkatan Kesejahteraan, Pemerataan Pembangunan, Peningkatan Kualitas SDM, dan Perekat Bangsa.
  6. Jaminan Rantai Pasok TBS yang sudah ISPO kepada PKS yang sudah ISPO, untuk memenuhi persyaratan ekspor CPO ke pasar Internasional ( The Amsterdam Palm Oil Declaration : 100% sustainable palm oil supply chain in Europe by 2020).
  7. Meningkatnya Daya Saing Sawit Indonesia dan keberterimaan di pasar Internasional.
  8. Menjadi salah satu Referensi Perbankan untuk Kredit Usaha Sawit.

Demikian informasi penting dari kegiatan ICE ISPO 2019 sebagaimana disampaikan oleh Kepala Sekretariat ISPO..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *