MENGENAL TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH (TPA)- BAGIAN #2

Sebuah TPA harus dibangun dengan ketentuan-ketentuan :

1. Pemrosesan akhir sampah dilakukan dengan menggunakan:

  • Metode lahan urug terkendali;
  • Metode lahan urug saniter; dan/atau
  • Teknologi ramah lingkungan.

2) Kegiatan pemorosesan akhir sampah yang di TPA, meliputi:

  • Penimbunan/pemadatan;
  • Penutupan tanah;
  • Pengolahan lindi; dan
  • Penanganan gas.

3) Pemrosesan akhir sampah di TPA harus memperhatikan :

  • Sampah yang boleh masuk ke TPA adalah sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga, dan residu;
  • Limbah yang dilarang diurug di TPA meliputi:
  • Limbah cair yang berasal dari kegiatan rumah tangga;
  • Limbah yang berkatagori bahan berbahaya dan beracun sesuai peraturan perundang-undangan; dan
  • Limbah medis dari pelayanan kesehatan.
  • Residu tidak berkategori bahan berbahaya dan beracun (B3) atau mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;
  • Dalam hal terdapat sampah yang berkategori bahan berbahaya dan beracun atau mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun di TPA harus disimpan di tempat penyimpanan sementara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan mengenai pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun; dan
  • Dilarang melakukan kegiatan peternakan di TPA.

4) Persyaratan TPA meliputi penyediaan dan pengoperasian, harus memperhatikan pemilihan lokasi, kondisi fisik, kemudahan operasi, aspek lingkungan, dan sosial.

5) Pemilihan lokasi TPA paling sedikit memenuhi kriteria aspek:

  • Geologi, yaitu tidak berada di daerah sesar atau patahan yang masih aktif, tidak berada di zona bahaya geologi misalnya daerah gunung berapi, tidak berada di daerah karst, tidak berada di daerah berlahan gambut, dan dianjurkan berada di daerah lapisan tanah kedap air atau lempung;
  • Hidrogeologi, antara lain berupa kondisi muka air tanah yang tidak kurang dari tiga meter, kondisi kelulusan tanah tidak lebih besar dari 10-6 cm/detik, dan jarak terhadap sumber air minum lebih besar dari 100 m (seratus meter) di hilir aliran.
  • Kemiringan zona, yaitu berada pada kemiringan kurang dari 20%.
  • Jarak dari lapangan terbang, yaitu berjarak lebih dari 3.000 m (tiga ribu meter) untuk lapangan terbang yang didarati pesawat turbo jet dan berjarak lebih dari 1.500 m (seribu lima ratus meter) untuk lapangan terbang yang didarati pesawat jenis lain;
  • Jarak dari permukiman, yaitu lebih dari 1 km (satu kilometer) dengan mempertimbangkan pencemaran lindi, kebauan, penyebaran vektor penyakit, dan aspek sosial;
  • Tidak berada di kawasan lindung/cagar alam; dan/atau
  • Bukan merupakan daerah banjir periode ulang 25 (dua puluh lima) tahun.

6) TPA tersebut harus dioperasikan dengan metode lahan urug terkendali atau lahan urug saniter meliputi:

  • melakukan penutupan timbunan sampah dengan tanah penutup secara periodik;
  • mengolah lindi yang dihasilkan sehingga efluen yang keluar sesuai baku mutu;
  • mengelola gas bio yang dihasilkan sesuai persyaratan teknis yang berlaku; dan
  • membangun area tanaman penyangga di sekeliling lokasi TPA tersebut.

7) Penentuan luas lahan dan kapasitas TPA harus mempertimbangkan timbulan sampah, tingkat pelayanan, dan kegiatan yang akan dilakukan di dalam TPA. Umur teknis TPA paling sedikit 10 (sepuluh) tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *