bengkayang-foto-3-2

Studi HCV (NKT) dan SIA

Meski konsep HCV (High Conservation Value) atau juga dikenal dengan NKT (Nilai Konservasi Tinggi)  pada awalnya didisain dan diaplikasikan untuk pengelolaan hutan produksi (HPH), dengan cepat konsep ini menjadi populer dan digunakan dalam berbagai konteks yang lain. Di sektor publik, HCV digunakan dalam perencanaan pada tingkat nasional dan propinsi, yang telah dilakukan di banyak negara. Di sektor sumber daya terbaharui, HCV digunakan sebagai alat   perencanaan untuk meminimalisasi dampak-dampak ekologi ekologi dan sosial yang negatif dalam pembangunan perkebunan termasuk yang saat ini sedang populer yaitu penerapan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) di unit pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

 

Mengacu pada prinsip dan kriteria National Interpretation – Roundtable Sustainable Palm Oil/NI-RSPO), khususnya pada Prinsip 5 dalam Kriteria 5.2 dan Prinsip 7   dalam Kriteria 7.3 yang telah mengatur bagaimana  kawasan/area yang bernilai konservasi tinggi harus diidentifikasi, dikelola dan dipantau. Secara rinci kedua kriteria tersebut berbunyi :

Kriteria 5.2 “Status terancam, atau hampir punah dan habitat dengan nilai konservasi tinggi, jika ada di dalam perkebunan atau yang dapat terkena dampak oleh manajemen kebun dan pabrik harus diidentifikasi dan konservasinya diperhatikan dalam rencana dan operasi manajamen”.

Kriteria 7.3 “Penanaman baru sejak November 2005 tidak dilakukan di hutan primer atau setiap areal yang dipersyaratkan untuk memelihara atau meningkatkan satu atau lebih Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value)”.

Sementara dalam Prinsip dan Kriteria ISPO, ketentuan terkait keberadaan kawasan/area yang bernilai konservasi tinggi disebutkan sebagai berikut :

Kriteria 3.5 “Pengelola perkebunan harus melakukan identifikasi kawasan yg mempunyai nilai konservasi tinggi yg merupakan kawasan yg mempunyai fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa dengan tidak membuka untuk usaha perkebunan kelapa sawit”

Kriteria diatas menunjukkan adanya keharusan melakukan identifikasi dan pengelolaan habitat/area yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value – HCV) di dalam pengelolaan kebun dan pabrik sawit baik untuk skema wajib ISPO maupun skema sukarela RSPO. Khusus terkait RSPO, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk implementasi NPP (New Planting Procedure). Sebagai catatan untuk penerapan dalam ISPO mempunyai beberapa ketentuan yang mengaturnya lebih lanjut.

Di sektor swasta, penggunaan konsep HCV menunjukkan komitmen perusahaan untuk melakukan praktek terbaik (best practice) sekaligus memberikan jalan bagi perusahaan untuk menunjukkan diri sebagai warga dunia usaha swasta yang bertanggung jawab.
bengkayang-foto-3-2bengkayang-foto-6-1

Dengan teridentifikasikannya nilai-nilai penting dan jaminan bahwa nilai tersebut akan tetap dipertahankan dan dilestarikan, memungkinkan untuk membuat keputusan-keputusan yang rasional sehubungan dengan pengelolaan kebun dan pabrik yang konsisten terhadap pelestarian nilai-nilai lingkungan dan sosial yang dianggap penting.

Sementara itu masih dalam rangka dalam menghadapi sistem sertifikasi RSPO, salah satu persyaratan yang diperlukan adalah melakukan kegiatan penialain dampak lingkungan atau Social Impact Assesment (SIA) kegiatan pembangunan kebun kelapa sawit sebagai landasan untuk menyusun  dokumen rencana/road map kelestarian sosial perusahaan, yang berisi tentang rencana kelola sosial berdasarkan isu dan permasalahan sosial yang berkembang disekitar perusahaan.

Dalam kepentingan inilah PT FOCUS CONSULTING GROUP (FCG Consulting)  terlibat dalam  kegiatan studi-studi ini di beberapa perkebunan kelapa sawit baik yang sedang tahap pembangunan maupun sudah beroperasional.

Program studi yang dikembangkan FCG Consulting bertujuan membantu perusahaan atau unit manajemen perkebunan, untuk :
a).  Memahami pentingnya NKT;
b).  Memahami persyaratan-persyaratan (kriteria) NKT;
c).  Mengetahui metoda identifkasi  dan evaluasi NKT;
d).  Mengetahui jenis, tempat, cara umum pengelolaan NKT yang berada di areal rencana pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit.
e).  Menyiapkan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan NKT;
f).   Mengkaji persepsi masyarakat terhadap perusahaan, harapan dan keinginan masyarakat terhadap rencana perusahaan dalam pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit  serta mekanisme pemenuhanya;
g).  Mengidentifikasi permasalahan dan isu-isu sosial yang mungkin akan terjadi (dihadapi) terhadap perusahaan, serta alternatif solusinya;
h).  Mengidentifikasi stakeholder yang terkait langsung dan tidak langsung dengan kegiatan perusahaan, yang perlu diperhatikan (skala prioritas);
i).   Merumuskan Road Map (permasalahan, strategi, program dan kegiatan) yang dibutuhkan perusahaan dalam mengelola aspek Sosial untuk menuju terwujudnya hubungan harmonis dengan plasma dan masyarakat sekitarnya;
j).    Menghasilkan dokumen hasil  penilaian NKT dan dampak sosial  rencana pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit;
k).   Membantu melaksanakan EXPOSE atau konsultasi publik kepada stakeholder.

expose_nkt_web (1)