Pemahaman COC (Seri-5) : Sistem Manajemen dan Penggunaan Trademark COC

Pada artikel ini, dilanjutkan dengan pembahasan umum persyaratan-persyaratan COC di kedua standar. Secara umum sebuah standar yang berisi persyaratan untuk sertifikasi COC akan terdiri dari :
⦁ Sistem Manajemen COC
⦁ Sumber Bahan Baku (Material Input)
⦁ Penanganan, Pencatatan Material dan Produk
⦁ Metode Pengendalian COC
⦁ Penjualan
⦁ Pengendalian Logo dan Trademarks
⦁ Outsourcing

Jika disimak lebih lanjut, sistem manjemen minimum yang dipersyaratkan dalam COC secara umum meliputi :
⦁ Penetapan Wakil Manajemen
⦁ Pendokumentasian Prosedur CoC
⦁ Penetapan Personal Kunci
⦁ Pelatihan
⦁ Pemeliharaan catatan (rekaman) CoC
⦁ Komitmen terhadap nilai-nilai COC
⦁ Komitmen terhadap Isu Sosial dan K3
⦁ Penanganan Komplain
⦁ Penanganan Produk yang tidak sesuai
⦁ Due Dilligence System
⦁ Internal Audit dan Tinjauan Manajemen (khusus dalam PEFC)

Terkait kebutuhan informasi dalam bentuk dokumen, rekaman dan sebagainya, COC mempersratkan disediakannya berbagai informasi diantaranya :
⦁ Prosedur-prosedur
⦁ Daftar kelompok produk
⦁ Catatan training
⦁ Dokumen pembelian dan penjualan
⦁ Catatan perhitungan material
⦁ Trademark approvals
⦁ Catatan para supplier
⦁ Komplain dan outsourcing
⦁ Pengendalian non-conforming products
⦁ Catatan terkait program uji tuntas (due diligence system – DDS)
⦁ Audit dan tinjauan (dalam PEFC)
⦁ Dll

Bagi yang berpengalaman dalam penerapan sistem manajemen mutu atau sejenisnya misal dalam ISO 9001, 14001 atau 45001, persyaratan-persyaratan diatas sudah lama dikenal sehingga tidak asing dan mudah dipahami dan kenal dalam praktek. Beberapa kalangan menyebutnya COC sebagai Mini ISO.

Bagi organisasi atau perusahaan yang telah menerapkan Sistem Manajemen (SM) ISO, penerapan COC relatif menjadi sangat mudah. Waktu serta sumberdaya yang harus disediakan relatif kecil. Tentu masih banyak isu-isu yang tidak dibicarakan secara spesifik dam SM ISO namun menjadi pembahasan inti dalam COC. Isu tersebut diantaranya mengenai pengendalian bahan baku (material), metode pengendalian COC yang diterapkan, serta pengendalian penggunaan logo dan trademark (label) dari kedua penerbit standar. Isu-isu pokok ini mengarah pada lisensi penggunaan trademark COC pada produk (on products) dan selain produk (off products).

Dalam masing-masing standar kedua lembaga memberikan panduan penggunaan logo dan trademark ini. Menarik untuk dicermati, pada kesempatan penerbitan panduan penggunaan logo dan PEFC di tahun 2020, nampak pemahaman status atau kategori produk COC kedua lembaga menjadi relatif sama. Kedua lembaga memperkenalkan kategori produk bersertifikat 100%, Mix dan Recycled. Khusus untuk istilah Mix dalam PEFC digunakan bahasa dan penampilan klaim (label) yang berbeda.

Lebih jauh kedua lembaga menyatakan bahwa logo dan informasi terkait lainnya sangat dilindungi oleh hukum yang berlaku secara internasional. Penggunaan logo dan label harus benar-benar tepat, tidak menyesatkan (missleading) dan mendapat persetujuan dari pihak berwenang yang ditunjuk. Gambar, tulisan dan klaim did dalamnya sangat ketat diatur. Begitu pula penenpatannya pada produk. Kemungkinan kedua logo tertera dalam produk yang sama pun diatur dalam standar nya. Begitu pula penggunaan logo dan trademark buak pada produk (off products) seperti di dokumen perusahaan, website, dokumen pembelian dan penjualan, media marketing dan sebagainya turut diatur dengan detail. Terakhir tidak lupa hak penggunaan logo dan trademark ini baik bagi pemegang sertifikat COC maupun pihak lainnya yang telah diatur dalam perjanjian dengan kedua lembaga dibebani biaya yang besarannya pun telah ditetapkan. Umumnya disesuaikan dengan jenis kegiatan perusahaan atau lembaga dan besaran produksi (bisnis).

Dalam praktek, tidak semua produk bersertifikat COC ini menggunakan hak pemberian logo dan label COC pada produknya. Ini bergantung pada persyaratan dari pihak pelanggan. Ada berbagai pertimbangan bisnis dan kesepakatan antara produsen atau penyedia jasa dengan pelanggan atau pasar yang dihadapinya.
Di pasar kita bisa dijumpai dengan mudah berbagai produk yang telah mendapat hak penggunaan label COC. Kini produk-produk bersertifikat COC semakin dekat dengan kita. Di berbagai toko retail atau pedagang (merchant) dekat rumah kita di Indonesia kita banyak menemukan produk atau kemasan berlabel COC ini. Dengan catatan hingga saat kita mencarinya di pasar produk-produk tersebut masih memegang hak penggunaan trademark dan/atau punya minat (merasa penting atau perlu) untuk menggunakannya sebagai on-product label.

Pemahaman COC (Seri-1) : Pengantar – Mengenal Sistem Lacak Balak (Chain of Custody)

COC dalam pengertian yang akan dibahas dalam artikel ini merujuk pada isu yang berkembang di bidang sertifikasi kehutanan dan produk kehutanan. Sertifikasi ini telah berkembang dalam dua atau tiga dekade terakhir. Telah banyak sektor industri yang dengan sukarela atau terpaksa oleh pasar produknya menerapkan sistem sertifikasi ini. Sesuai pengalaman penulis, setidaknya sistem ini telah banyak diterapkan di sektor kehutanan itu sendiri dan olahannya , industri kertas dan pulp, industri tekstil, alat kesehatan yang menfaatkan produk hasil kehutanan, industri percetakan dan kemasan.

Chain of Custody (CoC) secara umum diartikan sebagai sebuah proses pelacakan, pencatatan informasi dan transfer material dari hutan bersertifikat melalui tahapan-tahapan proses berikutnya. Namun secara resmi pengertian COC dapat kita temukan dalam 2 (dua) sumber utama standar rujukan dalam penerapannya. Kedua sumber tersebut berasal dari lembaga FSC (Forest Stewardship Council) dan PEFC (The Programme of Endoresement on Forestry Certification).

Menurut FSC dalam dokumen asalnya, chain of custody (CoC) is the path taken by products from the forest, or in the case of recycled materials from the moment when the material is reclaimed, to the point where the product is sold with an FSC claim and/or is finished and FSC-labelled. The CoC includes each stage of sourcing, processing, trading, and distribution where progress to the next stage of the supply chain involves a change of product ownership. (Temukan dalam Standar FSC untuk penerapan COC pada dokumen bernomor FSC-STD-40-004-V3)

Sementara menurut PEFC, chain of custody adalah processes of an organisation for handling forest and tree based products and information related to their material category, and making accurate and verifiable PEFC claims (dinukil dari standar PEFC ST 2002:2020).

Secara sederhana, dari identifikasi berbagai sumber informasi yang ada, COC diartikan sebagai sistem untuk penelusuran asal-usul bahan yang diproduksi dari hasil hutan. Tentu saja hasil hutan tersebut sebelumnya telah mendapat pengakuan sebagai bahan atau material yang keluar atau dihasilkan dari sebuah upaya pengelolaan hutan yang dinilai lestari (sustainable). Pengakuan kelestarian ini diakui secara global melalui kegiatan sertifikasi bidang kehutanan. Kerangka pengelolaan hutan yang telah mendapat pengakuan ini sering disebut pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management).

PEMAHAMAN COC (SERI-3) : SUMBER DARI HUTAN BERSERTIFIKAT DAN TIDAK BERSERTIFIKAT

Secara umum dapat dikatakan sebuah produk bersertifikat COC berasal dari hutan bersertifikat SFM. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Bergantung pada sistem mana yang dirujuk.
Kembali pada rujukan utama tulisan ini, yaitu standar COC dari FSC dan PEFC, kita dapat menemukan berbagai variasi yang dapat menjadi sumber asal bahan baku produk bersertifikat.

Ilustrasi diatas menunjukkan ada berbagai kemungkinan kombinasi sumber bahan baku kayu. Alternatif pertama, seluruh bahan baku berasal dari hutan SFM. Alternatif kedua, sebagian berasal dari hutan SFM dan selebihnya dari sumber yang tidak bersertifikat SFM namun diakui memenuhi syarat untuk dicampurkan (mixed) dengan bahan dari hutan bersertifikat. Percampuran itu sendiri dapat terjadi di awal produksi di area manufaktur atau di proses-proses pengaturan atau pengolahan berikutnya.

Berbagai kombinasi tersebut diijinkan sepanjang memenuhi persyaratan standar yang diacu. Lebih lanjut topik tentang metode percampuran ini akan dibahas secara khusus pada saat membahas metode pengendalian COC sebagaimana diatur dalam persyaratan COC dari standar yang diacu pada saat sebuah bahan mendapat perlakukan tertentu di sebuah aliran proses produksi .
Berdasarkan pemahaman tersebut, ditarik pemahaman bahwa sebuah produk bersertifikat dapat berasal dari sumber bersertifikat dan tidak bersertifikat dengan syarat-syarat tertentu baik dalam status asal usul maupun metode dan kuantitas produksinya.

Menarik untuk dipahami status bahan baku yang berasal dari hutan tidak bersertifikat. FSC maupun PEFC memberi kriteria khsusus untuk sumber kayu seperti ini. FSC menggunakan istilah sumber dari kayu terkendali (controlled wood) sementara PEFC memperkenalkan istilah kayu dari sumber tidak kontroversial (non controversial sources). FSC secara khusus menerbitkan standar yang mengatur sertifikasi sumber bahan seperti ini sehingga dikenal mekanisme sertifikasi sumber hutan FSC controlled wood. Sumber yang tidak memenuhi syarat-syarat ini tidak dapat dijadikan pencampur untuk menjadi bagian produk bersertifikat COC.

Mekanisme untuk melakukan penilaian agar suatu bahan dan sumber memenuhi syarat untuk diakui menjadi bahan pencampur ini diatur secara khusus baik oleh FSC maupun PEFC. Kedua lembaga memperkenal sebuah istilah untuk proses penilaiannya yaitu Due Dilligence System (DDS). Mekanisme ini tidak sederhana, perlu pemahaman detail dan keahlian khusus. DDS ini akan dibahas secara khusus pada tulisan lain.

PEMAHAMAN COC (Seri-2) : Skema PENERAPAN COC

Dalam konteks Indonesia COC sering dikenal dengan istilah lacak balak. Lacak artinya penelusuran dan balak artinya panen atau penebangan hasil hutan (ingat : illegal logging = penebangan liar). Lebih sederhana lagi COC setara dengan pengertian telusur kayu.

Bayangkan kita sedang duduk diatas sebuah kursi berbahan baku kayu jati dengan hiasan besi dibeberapa sisi atau bagiannya. Jika kursi jati tersebut kita beli dengan membawa suatu merek sertifikasi COC, maka kita meyakini bahwa sumber bahan baku kayu dari kursi tersebut berasal dari sebuah hutan yang menghasilkan kayu jati. Kayu jati tersebut sebelum diolah di sebuah penggergajian kayu (sawmill) biasanya beredar dari tangan ke tangan melalui perantara para pedagang (broker) kayu. Dalam ilustrasi diatas broker kayu itu ditandai dengan istilah TPK (tempat penyimpanan kayu yang dikuasai oleh para pedagang kayu).

Bahan baku kursi jati diolah secara industrial biasanya disebuah pabrik kayu terpadu yang didalamnya bisa ada atau dengan proses sawmill terpisah. Pada proses selanjutnya sering bahan baku setengan jadi di industri primer diolah kembali di industri sekunder untuk proses akhir (finishing). Akhir dari perjalanan produk tersbut sampai di rumah kita dan diduduki sekarang ini lumrah kita lihat dan beli di sebuah toko furniture. Tentu gambaran ini dapat bervariasi lebih sederhana atau bahkan lebih rumit. Bagaimana dengan bahan besi yang dipakai untuk menyempurnakan kreasi produk tersebut, tentu tidak menjadi obyek pembicaraan dan permasalahan dalam sistem COC ini. Kayu adalah unsur netral dalam sistem sertifikasi ini yang tidak diperhitungkan asal-usul dan proporsi kuantitasnya dalam sebuah produk COC.

Untuk memastikan produk kursi tersebut layak menyandang produk bersertifikat COC, makan seluruh perjalanan bahan atau material tersebut harus melalui proses pemeriksaan (assessment) pada setiap tahapan proses untuk membuktikan validasi asal-usulnya.

Cara untuk pemastian yang terpercaya tentu melalui proses sertifikasi. Lembaga-lembaga sertifikasi yang berwenang dan kredibel terdaftar secara khusus dengan menggunakan panduan assessment yang sesuai. Pertanyaannya, apakah setiap tahapan itu betul-betul harus tersedia sertifikasinya. Jawabannya tidak terlalu sederhana. Logikanya tentu benar harus sertifikasi. Namun sistem ini menyimpan keragaman cara bergantung pedoman-pedoman yang dianutnya. Kita harus memahami secara detail setiap pedoman yang dirujuk untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Pedoman-pedoman ini yang terkandung dalam setiap butir-butir persyaratan sistem sertifikasi. Di seri pertama sudah disajikan setidaknya ada dua lembaga internasional yang menerbitkan pedoman (standar) ini. Sebut saja keduanya itu adalah FSC dan PEFC. Skema sertifikasi dari kedua lembaga ini yang dikenal secara global.

ONLINE TRAINING ON ISO 45001, GHG AND LCA

FORM PENDAFTARAN PELATIHAN

  1. Nama calon peserta :
  2. Jenis pelatihan yang ingin di ikuti :
  3. Asal Perusahaan/Lembaga/Individu :
  4. Kota domisili :
  5. No HP/WA :
  6. Email :
  7. Rencana Tgl Pembayaran :
  8. Informasi lain :

Kirim via WA ke 08128791563 atau email : fcgconsulting.info@gmail.com

Yang mendaftarkan,
TTD
Nama :
Jabatan :

Keterangan :
1 – LCA Online, 10-11 Juni 2020 (Rp 4 Juta – Diskon 20% Pendaftaran sebelum 10 Mei 2020)
2 – GRK Online, 17-18 Juni 2020 (Rp 4 Juta – Diskon 50% Pendaftaran sebelum 1 Mei 2020)
3 – SMK3 Online, 22-23 Juni 2020 (Rp 3,5 Juta – Diskon 50% Pendaftaran sebelum 1 Mei 2020)

✅Peserta maksimal 10 orang.

✅BONUS : Diundang khusus pada Pelatihan in Class pada kesempatan berikutnya (peserta dan jenis pelatihan ditetapkan oleh FCG).

✅Fasilitas : Training kit (Tas, T-shirt, Materi Pelatihan – soft & hardcopy) serta Sertifikat.

Memahami dan Menguasai LCA-Life Cycle Assessment

PERSPEKTIF
“Life Cycle Assessment – LCA diartikan sebagai kompilasi dan evaluasi masukan, keluaran dan dampak lingkungan potensial dari sistem produk di seluruh daur hidupnya.
LCA diberlakukan dalam rangka pengembangan kriteria yang lebih dari ketaatan pada aturan Proper namun untuk menghitung keberlanjutan penggunaan sumber daya alam, serta mengevaluasi kemungkinan perbaikan lingkungan” (Perdirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Nomor P.14 Tahun 2018).
LCA wajib diterapkan oleh organisasi (perusahaan) yang berpartisipasi dalam program Proper dan terbuka untuk diterapkan di semua jenis kegiatan dan usaha.

MATERI PELATIHAN
Penilaian Daur Hidup berdasarkan Peraturan Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Nomor P.14 Tahun 2018

  • Overview : Latar belakang dan Manfaat, Life Cycle Thinking,
  • Awareness, Kaitan dengan PROPER
  • Penentuan Tujuan dan Ruang Lingkup
  • Inventori Daur Hidup
  • Penialaian Dampak Daur Hidup (LCIA)
  • Interpretasi Hasil Kajian
  • Perbaikan Berkelanjutan
  • Efisiensi Sumberdaya dan Produksi Bersih
  • Penyusunan Laporan
  • Deklarasi Produk
  • Studi Kasus
  • Aplikasi Software

INSTRUKTUR
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),
Pakar dan Praktisi

Pelaksanaan* :
Paket #1 – awareness (2 Hari) : 20-21 April 2020
Paket #2 – advanced (4 Hari) : 8-11 Juni 2020

*) Perbedaan jumlah hari terkait kedalaman
pembahasan setiap materi

Lokasi : IPB International Convention Centre Baranang Siang Bogor
Fasilitas : Training kit, Materi Pelatihan, Makan Siang, Rehat Kopi & Sertifikat.

Biaya Kepesertaan :
Paket #1 : Rp 4.000.000 / org
Paket #2 : Rp 7.000.000 / org
(Biaya belum termasuk transportasi, akomodasi dan PPN)

  • Pelatihan akan dilaksanakan pukul 09.00 – 16.00 WIB
  • Investasi (harga) tidak termasuk penyediaan tempat penginapan dan transportasi peserta serta PPN.
  • Untuk efektivitas pelaksanaan dan hasil pelatihan, peserta maksimal 20 orang.
  • Biaya ditransfer (pendaftaran tanpa diskon) paling lambat 2 (dua) minggu sebelum kegiatan dilaksanakan.
  • Dapatkan DISKON untuk pendaftaran lebih awal.
  • Informasi lebih lengkap hubungi : FOCUS CONSULTING GROUP, Telp: 021-29077736, HP/SMS/WA : 08128791563, Email : fcgconsulting.info@gmail.com

CSMS : PENGELOLAAN K3LL UNTUK PEKERJAAN YANG DIKONTRAKKAN

PENGELOLAAN K3LL UNTUK PEKERJAAN YANG DIKONTRAKKAN (CSMS : Contractor Safety and Environmental Management System) WORKSHOP

BOGOR, 15-16 APRIL 2020

CSMS Workshop

Sistem Manajemen Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindung Linfkungan (SMK3LL) merupakan persyaratan wajib bagi suatu kegiatan usaha untuk menjamin tidak terjadinya kerugian yang diakibatkan kecelakaan kerja. Pemerintah melalui stakeholder terkait, mensyaratkan setiap kontraktor yang terlibat dalam kegiatan memiliki SMK3LL.     

Pengelolaan SMK3LL bagi kontraktor sebagai syarat mengikuti proses pengadaan barang dan jasa telah diatur dari tahapan perencanaan pekerjaan, sampai dengan penilaian akhir yang bisa berimplikasi pada pencabutan Sertifikat penilian CSMS yang telah diberikan.      

Dengan mengikuti pelatihan CSMS ini diharapkan peserta pelatihan dapat mempersiapkan dokumen perusahaan sehingga siap untuk dinilai dan lolos dalam tahapan pra seleksi serta dapat menjalankan dan memonitor perencanaan SMK3LL yang telah disepakati untuk menghindari pencabutan sertifikat CSMS.

Fasilitator :
SRI SUHARDONO
Environmental Safety Consultant and Trainer

Waktu dan Investasi

  • Pelatihan akan dilaksanakan dalam waktu 2 (Dua) hari, pukul 09.00 –  16.00 WIB 
  • Biaya Public Training ini  sebesar   Rp 3.500.000 per orang
  • Investasi  (harga) tidak termasuk penyediaan tempat penginapan dan transportasi peserta serta PPN.
  • Untuk  efektivitas pelaksanaan dan hasil pelatihan, peserta maksimal 20  orang.
  • Biaya ditransfer paling lambat 2 (dua) minggu sebelum kegiatan dilaksanakan.
  • Masih tersedia DISKON, dapatkan untuk pendaftaran lebih awal.
  • Informasi lebih lengkap hubungi : FOCUS CONSULTING GROUP, Telp: 021-29077736,  HP/SMS/WA : 08128791563, Email :
    fcgconsulting.info@gmail.com